Minggu, 10 Juli 2016

PENTINGNYA PEMAHAMAN MATEMATIKA DALAM PSIKOLOGI


Manusia mengalami proses berfikir, berinteraksi dengan orang lain dalam berbagai aktivitas, termasuk dalam pengambilan keputusan, berpendapat, memecahkan masalah dll. Dan ilmu matematika juga sangat berpengaruh didalam aktivitas tersebut, pada dasarnya setiap individu di tuntun untuk mempelajari ilmu logika dalam matematika adalah agar dapat berfikir logis dan cermat dalam mengatasi masalah-masalah yang ada, namun kemampuan berfikir(bernalar) seseorang lah yang dapat menentukan sampai seberapa sanggup seseorang itu berfikir untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.

Statistika dalam ilmu psikologi

Peranan statistika dalam psikologi lebih jauh, Statistika sebagai bahan perencanaan,
Statistika sebagai bahan monitoring, Statistika sebagai bahan evaluasi. Penerapan ilmu statistik dalam ilmu psikologi adalah dengan metode wawancara(dengan kuesioner didalamnya terdapat pertanya-tanyaan sehubungan dengan apa yang akan di teliti).
contoh. Bagaimana kita mengukur sisi kepribadian seseorang dilihat dari gaya kepemimpinannya. Dimana kita tahu, Peran kepemimpinan menuntut seorang pemegang jabatan untuk mempengaruhi bawahan, rekan sejawat atau atasan untuk melakukan tindakan dengan cara tertentu, dan bukan dengan cara lain. Setiap orang mengembangkan gayanya sendiri dalam mempengaruhi orang lain, yang dirasakan paling nyaman dan cenderung memberikan hasil yang paling baik baginya.

Kemudian, Semua pertanyaan yang diajukan dijawab oleh narasumber dan diteliti melalui standart perhitungan dalam ilmu statistik. Hasil dari perhitungan statistik tersebut Bisa atau dapat digambarkan dalam angka atau
pun diagram.

Statistika banyak diterapkan dalam berbagai disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu alam (misalnya astronomi dan biologi maupun ilmu-ilmu sosial (termasuk sosiologi dan psikologi), maupun di bidang bisnis, ekonomi, dan industri. Statistika juga digunakan dalam pemerintahan untuk berbagai macam tujuan; sensus penduduk merupakan salah satu prosedur yang paling dikenal. Aplikasi statistika lainnya yang sekarang popular adalah prosedur jajak pendapat atau polling (misalnya dilakukan sebelum pemilihan umum), serta hitung cepat (perhitungan cepat hasil pemilu) atau quick count. Di bidang komputasi, statistika dapat pula diterapkan dalam pengenalan pola maupun kecerdasan buatan.

Hubungan antara matematika dengan bidang psikologi sangatlah erat dan saling berkaitan, bahkan semua ilmu termasuk psikologi sangat berhubungan dengan matematika.

Misalnya dalam pengukuran. Pengukuran adalah bagian esensial kegiatan keilmuan. Psikologi sebagai cabang ilmu pengetahuan yang relative lebih muda harus banyak berbuat dalam hal pengukuran ini agar eksistensinya, baik dilihat dari segi teori maupun aplikasi makin mantap.

Ilmu pengukuran (measurement) merupakan cabang dari ilmu statistika terapan yang bertujuan membangun dasar-dasar pengembangan tes yang lebih baik sehingga dapat menghasilkan tes yang berfungsi secara optimal, valid, dan reliable. Pengukuran adalah suatu prosedur pemberian angka (kuantifikasi) terhadap atribut atau variable sepanjang suatu kontinum.

Kegiatan pengukuran psikologis sering disebut juga tes. Tes adalah kegiatan mengamati atau mengumpulkan sampel tingkah laku yang dimiliki individu secara sistematis dan terstandar.

Salah satu macam tes, yaitu psikometri, bagaimana kita tahu bahwa kita memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dari teman kita atau saudara kita, kalau tidak diukur? Dan bagaimana kita tahu kalau alat ukur yang dipakai itu sudah valid dan dapat diandalkan sehingga kita percaya bahwa kita lebih cerdas atau lebih bodoh dari teman kita?

Disinilah peran psikometri. Psikometri berupaya membuat alat ukur yang bisa dipercaya berlandaskan prinsip-prinsip psikometri (validitas, reliabilitas, tidak bias, dan standarisasi). Karena cakupan pengukuran psikometri sangat luas meliputi semua aspek psikologis kita, maka seringkali orang lebih sering menyebut psikotest untuk semua pengukuran yang berbasis psikologi. Padahal ada banyak sekali pengukuran di dalam psikologi, sehingga lebih tepat jika dikatakan tes psikometri.

Salah satu contoh dari psikometri adalah Intelligence Quotient (IQ) tes, tes standar yang mengukur kecerdasan relatif seseorang. Salah Satu contoh Dari psikometri adalah Intelligence Quotient (IQ) tes, tes standar mengukur kecerdasan Yang relatif seseorang. Sebuah nilai IQ adalah pengukuran relatif, dibandingkan dengan referensi IQ 100 untuk nilai rata-rata. Skor IQ untuk populasi besar merupakan contoh dari fungsi statistik yang disebut distribusi normal. Kurva normal atau kurva Gauss adalah kurva lonceng berbentuk akrab di mana pengukuran yang digambarkan sepanjang sumbu x dan frekuensi digambarkan sepanjang sumbu-y. Sebagian besar nilai IQ jatuh di bagian luas kurva dekat nilai rata-rata 100. Sebagai skor menyimpang negatif atau positif dari 100, metodologi Q adalah jenis analisis yang digunakan dalam psikologi untuk mengukur dan mengkuantifikasi perasaan sekelompok orang mengenai topik tertentu. Sebagai contoh, sebuah kelompok besar mahasiswa bisa diminta dengan pertanyaan berikut: "Bagaimana perasaan Anda tentang sekolah Anda?" Sebagai contoh, sebuah Kelompok Besar Mahasiswa Bisa diminta Artikel Baru Pertanyaan berikut: "? Bagaimana perasaan Andari Tentang Sekolah Andari" Berbagai macam jawaban akan dikumpulkan mulai dari "Aku benci" untuk "Aku cinta" dengan banyak pendapat di antara menunjukkan sifat baik dan buruk dari sekolah. Berbagai macam Jawaban akan dikumpulkan Mulai Dari "Aku benci" untuk "Aku cinta" artikel baru di antara banyak pendapat menunjukkan sifat baik dan buruk dari sekolah. Dari itu, dalam jumlah terbatas pendapat (sampel Q) akan dipilih yang mewakili spektrum respon. Selama wawancara berikutnya, para siswa akan membaca sampel Q dan peringkat tingkat kesepakatan dengan masing-masing pendapat menggunakan skala -4 ke +4, dimana -4 menunjukkan ketidaksetujuan yang kuat dan +4 menunjukkan perjanjian yang kuat dengan pendapat itu. Proses ini disebut Q sorting. Data numerik Yang dihasilkan dapat dianalisis Artikel Baru menggunakan fungsi statistik untuk memberikan pendapat Gambaran Matematika Siswa Sekolah Tentang mereka.

Tes – tes lain yaitu Binet dan tes intelegensi

Binet menyusun alat tes. Tes yang disusun oleh Binet dan Simon tahun 1905 disebut menghasilkan skala Binet-Simon. Skala ini terkenal dengan nama skala 1905. Skala ini pada awalnya untuk mengukur dan mengidentifikasi anak-anak yang terbelakang agar mereka mendapatkan pendidikan yang memadai. Skala ini terdiri dari 30 soal disusun dari yang paling mudah ke yang paling sukar.

Pada skala versi kedua tahun 1908, jumlah soal ditambah. Soal-soal itu dikelomokkan menurut jenjang umur berdasar atas kinerja 300 orang anak normal berumur 3 sampai 13 tahun. Skor seorang anak pada seluruh perangkat tes dapat dinyatakan sebagai jenjang mental (mental level) sesuai dengan umur normal yang setara dengan kinerja anak yang bersangkutan. Dalam berbagai adaptasi dan terjemahan istilah jenjang mental diganti dengan umur mental (mental age), dan istilah inilah yang kemudian menjadi popular.

Revisi skala ketiga skala Binet-Simon diterbitkan tahun 1911, beberapa bulan setelah Binet meninggal mendadak. Pada tahun 1912, dalam Kongres Psikologi Internasional di Genewa, William Stern, seorang ahli psikologi Jerman, mengusulkan konsep koefisien Intelegensi yaitu IQ = MA/CA. Konsep ini yang dipakai dalam skala Binet yang direvisi di Universitas Stanford, yang terkenal dengan nama Skala Stanford-Binet yang diterbitkan tahun 1916, kemudian revisinya tahun 1937 dan revisi selanjutnya tahun 1960. Skala Stanford-Binet inilah yang selanjutnya diadaptasikan kedalam berbagai bahasa dan digunakan secara luas dimana-mana. Kecuali itu skala Stanford-Binet juga menjadi model Pengembangan berbagai tes intelegensi lain.


Sumber-sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar