Manusia
mengalami proses berfikir, berinteraksi dengan orang lain dalam berbagai
aktivitas, termasuk dalam pengambilan keputusan, berpendapat, memecahkan
masalah dll. Dan ilmu matematika juga sangat berpengaruh didalam aktivitas
tersebut, pada dasarnya setiap individu di tuntun untuk mempelajari ilmu logika
dalam matematika adalah agar dapat berfikir logis dan cermat dalam mengatasi
masalah-masalah yang ada, namun kemampuan berfikir(bernalar) seseorang lah yang
dapat menentukan sampai seberapa sanggup seseorang itu berfikir untuk
memecahkan masalah yang dihadapinya.
Statistika
dalam ilmu psikologi
Peranan
statistika dalam psikologi lebih jauh, Statistika sebagai bahan perencanaan,
Statistika
sebagai bahan monitoring, Statistika sebagai bahan evaluasi. Penerapan ilmu
statistik dalam ilmu psikologi adalah dengan metode wawancara(dengan kuesioner
didalamnya terdapat pertanya-tanyaan sehubungan dengan apa yang akan di
teliti).
contoh.
Bagaimana kita mengukur sisi kepribadian seseorang dilihat dari gaya
kepemimpinannya. Dimana kita tahu, Peran kepemimpinan menuntut seorang pemegang
jabatan untuk mempengaruhi bawahan, rekan sejawat atau atasan untuk melakukan
tindakan dengan cara tertentu, dan bukan dengan cara lain. Setiap orang
mengembangkan gayanya sendiri dalam mempengaruhi orang lain, yang dirasakan
paling nyaman dan cenderung memberikan hasil yang paling baik baginya.
Kemudian, Semua
pertanyaan yang diajukan dijawab oleh narasumber dan diteliti melalui standart
perhitungan dalam ilmu statistik. Hasil dari perhitungan statistik tersebut
Bisa atau dapat digambarkan dalam angka atau
pun diagram.
Statistika
banyak diterapkan dalam berbagai disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu alam (misalnya astronomi
dan biologi maupun ilmu-ilmu sosial (termasuk sosiologi dan psikologi), maupun
di bidang bisnis, ekonomi, dan industri. Statistika juga digunakan dalam
pemerintahan untuk berbagai macam tujuan; sensus penduduk merupakan salah satu
prosedur yang paling dikenal. Aplikasi statistika lainnya yang sekarang popular
adalah prosedur jajak pendapat atau polling (misalnya dilakukan sebelum
pemilihan umum), serta hitung cepat (perhitungan cepat hasil pemilu) atau quick
count. Di bidang komputasi, statistika dapat pula diterapkan dalam pengenalan
pola maupun kecerdasan buatan.
Hubungan antara
matematika dengan bidang psikologi sangatlah erat dan saling berkaitan, bahkan
semua ilmu termasuk psikologi sangat berhubungan dengan matematika.
Misalnya dalam
pengukuran. Pengukuran adalah bagian esensial kegiatan keilmuan. Psikologi
sebagai cabang ilmu pengetahuan yang relative lebih muda harus banyak berbuat
dalam hal pengukuran ini agar eksistensinya, baik dilihat dari segi teori
maupun aplikasi makin mantap.
Ilmu pengukuran
(measurement) merupakan cabang dari ilmu statistika terapan yang bertujuan
membangun dasar-dasar pengembangan tes yang lebih baik sehingga dapat
menghasilkan tes yang berfungsi secara optimal, valid, dan reliable. Pengukuran
adalah suatu prosedur pemberian angka (kuantifikasi) terhadap atribut atau
variable sepanjang suatu kontinum.
Kegiatan
pengukuran psikologis sering disebut juga tes. Tes adalah kegiatan mengamati
atau mengumpulkan sampel tingkah laku yang dimiliki individu secara sistematis
dan terstandar.
Salah satu
macam tes, yaitu psikometri, bagaimana kita tahu bahwa kita memiliki kecerdasan
yang lebih tinggi dari teman kita atau saudara kita, kalau tidak diukur? Dan
bagaimana kita tahu kalau alat ukur yang dipakai itu sudah valid dan dapat
diandalkan sehingga kita percaya bahwa kita lebih cerdas atau lebih bodoh dari
teman kita?
Disinilah peran
psikometri. Psikometri berupaya membuat alat ukur yang bisa dipercaya
berlandaskan prinsip-prinsip psikometri (validitas, reliabilitas, tidak bias,
dan standarisasi). Karena cakupan pengukuran psikometri sangat luas meliputi
semua aspek psikologis kita, maka seringkali orang lebih sering menyebut
psikotest untuk semua pengukuran yang berbasis psikologi. Padahal ada banyak
sekali pengukuran di dalam psikologi, sehingga lebih tepat jika dikatakan tes
psikometri.
Salah satu
contoh dari psikometri adalah Intelligence Quotient (IQ) tes, tes standar yang
mengukur kecerdasan relatif seseorang. Salah Satu contoh Dari psikometri adalah
Intelligence Quotient (IQ) tes, tes standar mengukur kecerdasan Yang relatif
seseorang. Sebuah nilai IQ adalah pengukuran relatif, dibandingkan dengan
referensi IQ 100 untuk nilai rata-rata. Skor IQ untuk populasi besar merupakan
contoh dari fungsi statistik yang disebut distribusi normal. Kurva normal atau
kurva Gauss adalah kurva lonceng berbentuk akrab di mana pengukuran yang
digambarkan sepanjang sumbu x dan frekuensi digambarkan sepanjang sumbu-y.
Sebagian besar nilai IQ jatuh di bagian luas kurva dekat nilai rata-rata 100.
Sebagai skor menyimpang negatif atau positif dari 100, metodologi Q adalah
jenis analisis yang digunakan dalam psikologi untuk mengukur dan
mengkuantifikasi perasaan sekelompok orang mengenai topik tertentu. Sebagai
contoh, sebuah kelompok besar mahasiswa bisa diminta dengan pertanyaan berikut:
"Bagaimana perasaan Anda tentang sekolah Anda?" Sebagai contoh,
sebuah Kelompok Besar Mahasiswa Bisa diminta Artikel Baru Pertanyaan berikut:
"? Bagaimana perasaan Andari Tentang Sekolah Andari" Berbagai macam
jawaban akan dikumpulkan mulai dari "Aku benci" untuk "Aku
cinta" dengan banyak pendapat di antara menunjukkan sifat baik dan buruk
dari sekolah. Berbagai macam Jawaban akan dikumpulkan Mulai Dari "Aku
benci" untuk "Aku cinta" artikel baru di antara banyak pendapat
menunjukkan sifat baik dan buruk dari sekolah. Dari itu, dalam jumlah terbatas
pendapat (sampel Q) akan dipilih yang mewakili spektrum respon. Selama
wawancara berikutnya, para siswa akan membaca sampel Q dan peringkat tingkat
kesepakatan dengan masing-masing pendapat menggunakan skala -4 ke +4, dimana -4
menunjukkan ketidaksetujuan yang kuat dan +4 menunjukkan perjanjian yang kuat
dengan pendapat itu. Proses ini disebut Q sorting. Data numerik Yang dihasilkan
dapat dianalisis Artikel Baru menggunakan fungsi statistik untuk memberikan
pendapat Gambaran Matematika Siswa Sekolah Tentang mereka.
Tes – tes lain
yaitu Binet dan tes intelegensi
Binet menyusun
alat tes. Tes yang disusun oleh Binet dan Simon tahun 1905 disebut menghasilkan
skala Binet-Simon. Skala ini terkenal dengan nama skala 1905. Skala ini pada
awalnya untuk mengukur dan mengidentifikasi anak-anak yang terbelakang agar
mereka mendapatkan pendidikan yang memadai. Skala ini terdiri dari 30 soal
disusun dari yang paling mudah ke yang paling sukar.
Pada skala
versi kedua tahun 1908, jumlah soal ditambah. Soal-soal itu dikelomokkan
menurut jenjang umur berdasar atas kinerja 300 orang anak normal berumur 3
sampai 13 tahun. Skor seorang anak pada seluruh perangkat tes dapat dinyatakan
sebagai jenjang mental (mental level) sesuai dengan umur normal yang setara
dengan kinerja anak yang bersangkutan. Dalam berbagai adaptasi dan terjemahan
istilah jenjang mental diganti dengan umur mental (mental age), dan istilah
inilah yang kemudian menjadi popular.
Revisi skala
ketiga skala Binet-Simon diterbitkan tahun 1911, beberapa bulan setelah Binet
meninggal mendadak. Pada tahun 1912, dalam Kongres Psikologi Internasional di
Genewa, William Stern, seorang ahli psikologi Jerman, mengusulkan konsep koefisien
Intelegensi yaitu IQ = MA/CA. Konsep ini yang dipakai dalam skala Binet yang
direvisi di Universitas Stanford, yang terkenal dengan nama Skala
Stanford-Binet yang diterbitkan tahun 1916, kemudian revisinya tahun 1937 dan
revisi selanjutnya tahun 1960. Skala Stanford-Binet inilah yang selanjutnya
diadaptasikan kedalam berbagai bahasa dan digunakan secara luas dimana-mana.
Kecuali itu skala Stanford-Binet juga menjadi model Pengembangan berbagai tes
intelegensi lain.
Sumber-sumber
:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar