“Siapakah guru pertama kamu dalam hidup, yang
mengajar kamu dalam bersopan santun, yang mengajarkan kamu cara berkomunikasi,
dan yang mengajarkan kamu bagaimana cara hidup sehat ?” Maka semua anak akan
menjawab serentak “ayaaaah dan ibuuu !!” Tentu saja para orang tua. Memang
benar bahwa itulah bahagian dari tanggung jawab orang tua dalam mendidik dan
merawat pertumbuhan anak.
Orang tua sebagai pendidik anak idealnya harus
merencanakan dan menyusun kegiatan anak di siang hari untuk bermain, sejak
mereka berusia bayi kapan perlu hingga mereka berusia remaja. Tentu saja mereka
perlu menyediakan sarana untuk berbagai aktivitas dalam rangka mengembangkan
intelegensi mereka.
Apakah musti sarana yang serba mahal dan serba
elektronik dan serba digital? Tentu saja tidak, karena tidak semua orang tua
yang memiliki uang yang berlebih. Maka benda-benda sederhana seperti
balok-balok, majalah bekas, crayon, peralatan yang ada di rumah juga bisa
memberi nilai edukatif bagi anak.
Untuk menumbuhkan anak cerdas, maka mereka tidak
hanya butuh benda dan permainan, namun juga membutuh orang lain. Ini berarti
bahwa mereka harus mempunyai teman yang banyak. Teman ereka tidak musti semua
anak-anak yang cerdas. Dari sana kelak mereka bisa kenal dengan watak dan
kualitas teman. “Si Jeki jadi bodoh karena suka buang-buang waktu dan menunda
ninda pekerjaan”. Keadaan teman yang lain adalah ada yang bodoh, pintar,
pemalas, sportif, dan lain-lain.
Agaknya orang tua juga perlu mengenal teknik
pengajaran di rumah, mungkin dalam bentuk menceramahi anak, memberi contoh,
menyuruh, mendikte dan sebagainya. Namun cara mendidik ang lebih baik adalah
dengan membiarkan anak untuk berbuat dan mencobanya langsung. Sejak usia 0-5
tahun, anak memang paling baik belajar lewat bermain dan menggunakan objek.
Mengapa demikian ? Ya karena mereka butuh pengalaman nyata.
Waktu adalah faktor pertama dalam pendidikan.
Disini bukan bearti yang dibutuhkan adalah waktu yang lama. Apa gunanya bermain
dan belajar begitu lama kalau anak merasa bosan. Bagi orang tua yang punya
karir padat, lebih baik melowongkan sedikit waktu untuk mlakukan kebersamaan
yang menyenangkan bersama anak lewat bermain, bercakap, dan belajar bareng.
Waktu yang dihabiskan orang tua bersama anak untuk mengobrol akan menguatkan
ikatan antara orang tua dan anak.
Sebagaimana dikatakan bahwa orang tua adalah guru
pertama anak, musti menjadi guru yang terhebat bagi mereka. Orang tua yang
punya prinsip masa bodoh, akan berpotensi menghancurkan masa depan anaknya
sendiri. Orang tua adalah juga psikolog terbaik bagi anak, karena dialah orang
yang selalu mengamati pertumbuhan dan perkembangan anak. Mereka akan melihat
bakat dan minat anak sejak usia dini. Sebagian anak, misalnya, memperlihatkan
bakat khusus pada musik dan seni saat usia dini. Namun bakat matematika dan
bahasa bisaanya terlihat agak terlambat. Albert Einstein, sebagai contoh, yang
dianggap sebagai anak bodoh karena perkembangannya terlambat saat di sekolah.
Orang tua biasanya menemukan karakter khusus anak
melalui observasi harian. Kadang-kadang juga menemui hal hal yang cukup kontra
dan serba aneh. Juga, kadang kala anak yang punya bakat/ cerdas melakukan
pekerjaanya tidak rapi dan tidak tertarik terhadap pekerjaan yang
berulang-ulang. Selanjutnya bahwa sekolah tidak dapat diharapkan begitu banyak
dalam menyediakan fasilitas buat anak berbakat. Orang tua sendirilah yang musti
menyediakan buku dan perlengkapan khusus mereka.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar